Avril n Me

Avril n Me

Read This yooo!!!!!!

Yang aku tulis di sini hanya sekadar contoh saja (khususnya tugas2 kuliah). Jika mau mengCopy gak apa2 seeh, asalkan gak dicopy seluruhnya gitu alias hanya sebagai refrensi. Bila ada yang berniat jelek (diCopy semua terus diklaim jadi hasilnya si pengCopy)aku gak bakal tau seeh, tapi ada Allah yang MahaTau. Semoga bermanfaat,, karna aku cuma mau share ke temen2...!!!!^^

Thursday, November 08, 2012

Bukan Sepasang Merpati



Mereka berdua tertawa bersama-sama setelah mendengar kata-kata dari seorang teman mereka. Sudah lebih dari tiga kali mereka disebut pasangan serasi, padahal Rana dan Azam hanyalah teman biasa. Rana menganggap Azam adalah kakaknya, karena memang umur Azam lebih tua dua tahun dari Rana. Mereka berdua cukup dekat diakibatkan karena mereka sama-sama mengikuti kegiatan intra kuliah yang sama di kampus mereka. Beberapa hari ini cukup padat jadwal kegiatan, maka mereka selalu terlihat bersama di setiap saat dan tempat.
Rana merasa kasihan pada Azam bila terus digosipkan memiliki hubungan dengannya. Secara Rana itu bukanlah gadis dengan penampilan rupawan seperti Azam yang bisa dibilang cukup tampan. Ia sempat berpikir untuk menghindar saja, namun mereka masih ada proyek bersama. Jadi sepertinya niat itu ia urungkan dulu.
Rounded Rectangle: 2Azam menanggapinya dengan santai. Ia tak masalah jika ada gosip seperti itu. Selama ia tak merasa terganggu dan gosipnya masih dalam batasan wajar, ia akan diam saja. Namun, ia tahu Rana merasa jengah dengan gosip kedekatan mereka. Sudah Azam katakan bahwa ia tak apa-apa, masih saja Rana merasa tak enak hati.
“Ya udahlah Ran, santai aja. Selama masalahnya belum kompleks kita sikapi biasa aja deh!!!” Kata Azam saat mereka sedang ngobrol di depan kontrakan Rana.
“Hm, iya Zam. Tapi ada masalah lain.”
“Masalah apa’an? Kalo ada masalah omongin aja Ran! Kamu tuh mesti gitu, diem aja kalo ada masalah. Habis itu ngambek ke semua orang deh. Apa kamu kira semua orang bisa paham sama bahasa kalbu kamu?”
“Bukannya gitu Zam! Kamu kok malah marahin aku sih? Kamu ke sini Cuma mau marah-marah doank apa mau ngopy proposal? Bikin bete aja!” Rana mengembalikan flashdisk Azam dan kemudian masuk ke kamarnya.
“Lho, Rana kenapa Zam?” Tanya Sela teman satu kontrakan Rana yang juga teman sekampung Azam.
“Ngambek kayak biasanya!”

“Tapi kalo sama kamu dia jarang ngambek kok, dia tuh emang gitu. Gede ambeknya, maklumi ajalah.”
“Iya, aku juga udah tau kok!”, “Ok aku balik dulu!”
Rana mendengar percakapan antara Azam dan Sela dari dalam kamarnya yang kebetulan dekat dengan ruang tamu. Kemudian ia merasa sangat menyesal sekali dengan perbuatannya tadi yang sangat kekanak-kanakan. Mau gimana lagi, sifat Rana memang seperti itu. Ia tidak bisa bila dimarahi atau dikritik orang lain jika sedang dalam suasana hati yang buruk. Rana berniat meminta maaf pada Azam melalui pesan singkat.
Zam, sorry banget ya!!
Ia kirim pesan singkat itu ke nomor hape Azam. Tak berapa lama Azam menjawab:
Haha, santai aja kali Ran! Besok anterin buat ngirim surat undangan ya!
Ok!
Rounded Rectangle: 4Rana tersenyum, hanya Azam yang bisa melumerkan segera suasana hatinya yang sedang tidak enak. Senyuman Azam membuatnya ikut tersenyum juga. Eits, jangan kira kalau si Rana suka sama Azam lho. Salah besaaaaaar!!! Karena sebenarnya Rana sedang jatuh cinta sama teman sekelasnya. Azam pun tau itu. Satu-satunya cowok yang tau rahasia Rana. Jadi dua-duanya memang tidak sedang jatuh cinta ataupun saling mencintai.

Keesokan harinya Rana dan Azam janjian bertemu di kantin kampus. Saat menunggu Azam, Rana memilih untuk sarapan terlebih dahulu. Ia harus mengisi perutnya sebelum minum obat dari ibunya. Karena terlalu banyak kegiatan, akhir-akhir ini fisik Rana sudah tak kuat lagi. Penyakit lamanya kambuh. Sebuah penyakit yang diakibatkan oleh sang pasien telat makan atau bhakan jarang makan. Tau kan kalau itu penyakit maag, dan maag Rana sudah pada tahap akut.
Tak berapa lama, Azam datang bersama Hilman. Hilman juga teman satu kegiatan intra kampus Rana, tapi ia tidak begitu dekat dengan Hilman. Mereka nampak terdiam dan tak seperti biasanya langsung duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rana merasa ada yang tidak beres, ia ingin bertanya namun takut ada yang salah. Ia hanya mengirimkan sms pada Azam.
Heh, km n Hilman ada mslah apa? Dteng2 kok pda cemberut gtu?
Azam hanya membaca pesan singkat Rana, ia menggelengkan kepala dan tak mengatakan apa-apa. Rana merasa salah tingkah. Ia kemudian tak melanjutkan makan dan ia lupa untuk minum obat. Ia buru-buru membayar makanannya dan pergi bersama Azam menuju kantor fakultasnya, meninggalkan Hilman yang diam saja sambil melihat hape-nya.
Setelah berjalan agak jauh, Azam bercerita bahwa Hilman sedang tidak dalam cuaca hati yang baik. Katanya, ia melihat cewek yang ia sukai—untuk pertama kalinya dibonceng cowok lain lewat depan matanya dan menyapa ketika bertemu tadi.
“Haha, jadi si Hilman lagi patah hati? Kasian banget tuh anak!”
“Iya, tapi jangan diketawain gitu dunk. Aku aja dari tadi takut yang mau ngomong.”
“Ya udah deh, kamu yang kasiin undangannya. Aku lagi gak mau ketemu Pak Umar.”
“Lho kok gitu, ayo bareng-bareng masuknya.”
Rana tetap diam di tempatnya, tidak bergerak sama sekali. Azam terpaksa masuk dan menghadap Pak Umar sendirian. Alasan kenapa ia tak mau  ikut menghadap orang nomer satu di fakultasnya itu adalah karena orang tersebut paman dari Rana. Beliau mendengar rumor bahwa keponakannya sedang menjalin hubungan dengan salah seorang mahasiswanya. Tentu saja jika beliau bertanya pada sang ponakan langsung, Rana tak akan mau menjawabnya.
Hampir lima belas menit, akhirnya Azam keluar dengan wajah aneh. Ia sepertinya kebingungan dan sedang bertanya-tanya dalam hati. Rana segera menghampirinya.
“Hei, kenapa? Kok keliatan bingung gitu?”
“Tadi pas di dalem, Pak Umar tanya nama sama aku kuliah jurusan apa. Selain itu bapak tadi juga tanya apa aku pacar kamu. Ngapain ya Pak Umar tanya-tanya gitu?”
“Oh, KEPO kale tuh orang. Gak sengaja pas liat kita jalan bareng trus langsung deh tanya apa aku pacar kamu. Udah gak usah dipikirin.” Rana melihat sekelebat bayangan orang yang mirip pamannya sedang mengintip dari balik jendela lantai dua. Jelasnya itu memang sang paman. Hape Rana berbunyi.
“Eh, bentar ya ada telepon.” Rana menjauhi Azam untuk menjawab telepon sang paman. Ia nampak marah dan langsung menutup telepon itu.
“Ayo pergi dari sini Zam!” Wajah Rana terlihat marah. Ia sangat tidak suka dengan omongan sang paman. Beliau mengira Azam pacar Rana dan melarang Rana jalan dengan Azam lagi. 
Aneh sekali bagi Rana, mana bisa ia menjauhi Azam jika mereka hanya berteman saja. Teman, bukan sepasang kekasih, bukan sepasang merpati yang saling terikat hati. Apa tak boleh lelaki dan perempuan berteman?
“Tadi Hilman, sekarang kamu Ran. Ada apa seh hari ini, kok sampek bisa bikin orang-orang jadi gak mood gini?”
“Sorry Zam, aku gak maksud jadi uring-uringan gini. Tapi tiba-tiba aku marah dan pengen banget teriak yang kenceng.”
“Ya udah, kita jalan-jalan dulu yuk! Aku ngajak Hilman sekalian ya!”
Rana hanya mengangguk dan menyandarkan kepalanya di bahu Azam ketika di atas motor. Ia lupa jika mereka masih di dalam kampus. Ia juga lupa kalau sudah tersebar rumor ‘hubungan’nya dengan Azam. Beberapa orang yang mengenal Azam kaget. Beberapa lagi yang kenal Rana tersenyum. Mereka mengira Azam dan Rana memang benar-benar pacaran.
Azam pun tidak mencoba mengingatkan Rana. Ia merasa kasihan, mungkin dengan begitu hati Rana menjadi tenang. Ketika mereka sampai di kantin, Hilman sudah tidak ada. Akhirnya Azam memutuskan mereka pergi hanya berdua. Ia meminta Rana mengirim pesan ke Hilman agar Hilman menyusul mereka. Sayangnya, Hilman tidak mau.
Di tempat biasa mereka menghilangkan suntuk itu terlihat sepi, tak banyak orang datang seperti biasanya. Mereka duduk di bukit teratas, dari tempat mereka bisa melihat sekeliling dengan jelas. Rana mengeluarkan headset dan mulai mendengarkan lagu. Volume paling kencang hingga Azam bisa mendengar lagu yang sedang diputar.
Dilepaskannya satu headset dan ia pasang di telinga kanannya. Duduknya pun sedikit mendekati Rana agar ia bisa ikut menikmati lagu kesukaannya. Bagi Rana itu tak masalah. Karena mereka bukan datang sebagai pacar yang mau pacaran, tapi dua orang teman yang sedang menghilangkan suntuk dan kepenatan dari aktivitas sehari-hari. Semilir menerpa wajah mereka. Daun-daun ada yang berguguran jatuh tepat di atas kepala. Suara kicauan burung masih terdengar. Rana ingin teriak namun ia takut orang-orang mengira ada apa. Ia hanya sanggup menangis.
Ia kesal, kenapa sang paman sangat mencampuri urusan dan kehidupan Rana. Seharusnya ia tak memilih kuliah di kampus itu jika bukan karena sang ibu yang memintanya. Jadi ia tak perlu harus diam-diam pergi dengan temannya, atau tak harus berbohong pada sang ibu tentang beberapa hal. Ia benci pamannya yang sok tau itu, mungkin karena beliau tak memiliki anak jadi merasa Rana adalah anak gadisnya juga.
“Rana!” terdengar suara yang sudah tak asing lagi. Suara paman Rana, Pak Umar. Beliau salah menyangka. Rana dan Azam seperti dua sejoli yang sedang berpacaran.
“Paman.” Jerit Rana
“Pak Umar? Paman?” Azam terlihat bingung.
“Apa-apa kalian? Kamu bilang dia ini bukan siapa-siapa kamu Rana? Kamu lupa kalau kamu sudah paman jodohkan dengan anak teman paman?” Pak Umar menyeret tangan Rana, namun Rana menipis tangannya.
“Kami gak lagi pacaran kayak yang paman kirain. Kita cuma lagi duduk aja paman. Rana gak lupa dan gak bisa lupa. Rana tau, Rana lagi dijodohin. Tapi apa pernah paman tanya perasaan Rana? Dia ini teman Rana paman, bukan berarti kita berduan di sini trus kita lagi pacaran!”
“Ah, bohong aja trus kamu. Jono, buka pintu mobilnya!”
Rana berontak dan teriak, seketika perutnya sakit sekali. Seperti ditusuk pisau berulang-ulang. Ia kemudian pingsan karena sakit hebat yang ia rasakan. Azam, Pak Umar, dan Jono supir Pak Umar kaget melihat Rana yang pingsan. Segera Rana dibawa menuju rumah sakit terdekat.

Sudah hampir setengah hari Rana pingsang dan harus dirawat di rumah sakit Harapan Bangsa. Maag-nya sudah parah, badannya sudah tak sanggup lagi bertahan hingga saat ia dan pamannya bertengkar. Azam panik, begitu juga Pak Umar. Mereka tak menyangka Rana akan pingsan. Sebelum dibawa ke rumah sakit, mereka tak tau penyebab Rana pingsan. Dan ternyata maag-nya kambuh.
Ibu Rana datang setelah di telepon. Jauh-jauh dari Palembang, sang ibu merasa khawatir. Itu terlihat dari raut wajahnya. Rana mendengar suara ibunya, langsung ia memanggil,
“Bu...”
Ibunya menghampiri dan mengusap kepala anak satu-satunya itu. Sambil berbisik ibunya berkata, “Iya sayang. Ibu di sini.”
Rana tersenyum meski ia menahan sakit yang luar biasa di perutnya. Reaksi obatnya mungkin sudah hilang. Ia mengeluh pada ibunya dan meminta dibawakan obat lagi. Ia tak sanggup menahan rasa sakit itu. Tak berapa lama suster dan dokter datang membawa obat-obatan.
Setelah meminum obatnya, Rana bertanya di mana apa ada temannya yang menjenguk.
“Banyak, tapi mereka ada di depan. Belum ibu suruh masuk.”
“Rana pengen ketemu yang namanya Azam bu.”
Ibunya langsung memanggil Azam. Kemudian Azam masuk namun tidak sendirian, ia bersama Hilman. Rana meminta ibunya keluar sebentar karena ada hal yang ingin dibicarakan dengan temannya.
“Rana, kamu kok gak bilang kalau Pak Umar itu paman kamu?”
“Iya maaf Zam, aku cuma gak pengen ada yang tau aja. Eh, kamu gak diapa-apain kan sama pamanku?”
“Gak. Waktu kamu pingsan dan dibawa ke sini, aku langsung sms Hilman minta dia dateng. Aku jelasin semuanya ke paman dan ibu kamu, kalau kita gak ada apa-apa.”
“Alhamdulillah deh, kalau semuanya udah jelas.”
“Tapi kamu juga gak cerita kalau kamu dijodohin.”
“Hm, itu cuma ide gila paman ku. Lebih tepatnya bukan dijodohin, tapi cuma mau dikenalin aja. Padahal aku udah bilang aku lagi suka sama orang lain, mungkin itu dikira kamu ya. Hahaha. Aduh.” Rana memengangi perutnya yang masih nyeri.
Kemudian mereka tertawa. Lucu memang. Setiap kali ada laki-laki dan perempuan yang naik motor bareng, keluar berdua bareng, jalan di kampus bareng, dan selalu bertemu ketika mereka sedang berdua langsung saja dikira pacaran. Padahal dua orang tersebut hanya teman dekat yang sedang menghabiskan waktu bersama.
Paman dan Ibu Rana masuk ke kamar,
“Rana, kalau kamu memang suka sama Azam. Paman gak akan maksa kamu ketemu anak temannya paman kok.”
“Iya sayang, ibu gak mau kamu jadi kepikiran trus lupa makan akhirnya maag kamu kambuh kayak gini.”
Rana, Azam, dan Hilman bengong. Mereka bingung, bukannya sudah jelas ya kalau Azam dan Rana hanya berteman. Hilman sampai bersumpah di depan paman Rana sewaktu menjelaskan tadi.
“Paman gak nyangka, ternyata kalian sudah saling suka. Jadi buat apa paman maksa ya.” Pak Umar dan ibu Rana tersenyum berdua.
“Maksud paman apa? Rana bingung paman!”
“Azam ini anak Pak Lukman, yang mau paman kenalin ke kamu. Paman gak tau kalau anaknya Pak Lukman kuliah di sini juga.”
“Apa?” Rana kaget, begitu pula Azam. Hilman hanya tertawa tertahan. Ternyata Azam-lah orang yang akan dijodohkan dengan Rana.



#4 November 2012




Thursday, November 01, 2012

Hufth...!!!????@#$%^&*

Minggu-minggu yang berat bagiku. Bagaimana tidak, aku harus menyelesaikan begitu banyak take home dari pak dan bu dosen. Aku lelah dari segi pikiran, tenaga, dan usaha dalam mengerjakannya. Aku sekarang berharap bahwa hasil yang aku tunggu dan aku mau sesuai dengan apa yang telah aku kerjakan. Semoga saja begitu dan harusnya begitu ya. Aku gak mau dapat nilai jelek, nanti ibu ku tanya, 'kenapa kok nilainya jelek dek?' dan aku paling malas menjawab pertanyaan seperti itu.
Kuloajoek.blogspot.com