Mereka berdua
tertawa bersama-sama setelah mendengar kata-kata dari seorang teman mereka.
Sudah lebih dari tiga kali mereka disebut pasangan serasi, padahal Rana dan Azam
hanyalah teman biasa. Rana menganggap Azam adalah kakaknya, karena memang umur Azam
lebih tua dua tahun dari Rana. Mereka berdua cukup dekat diakibatkan karena
mereka sama-sama mengikuti kegiatan intra kuliah yang sama di kampus mereka.
Beberapa hari ini cukup padat jadwal kegiatan, maka mereka selalu terlihat
bersama di setiap saat dan tempat.
Rana merasa kasihan
pada Azam bila terus digosipkan memiliki hubungan dengannya. Secara Rana itu
bukanlah gadis dengan penampilan rupawan seperti Azam yang bisa dibilang cukup
tampan. Ia sempat berpikir untuk menghindar saja, namun mereka masih ada proyek
bersama. Jadi sepertinya niat itu ia urungkan dulu.
“Ya udahlah Ran,
santai aja. Selama masalahnya belum kompleks kita sikapi biasa aja deh!!!” Kata
Azam saat mereka sedang ngobrol di depan kontrakan Rana.
“Hm, iya Zam. Tapi
ada masalah lain.”
“Masalah apa’an?
Kalo ada masalah omongin aja Ran! Kamu tuh mesti gitu, diem aja kalo ada
masalah. Habis itu ngambek ke semua orang deh. Apa kamu kira semua orang bisa
paham sama bahasa kalbu kamu?”
“Bukannya gitu Zam!
Kamu kok malah marahin aku sih? Kamu ke sini Cuma mau marah-marah doank apa mau
ngopy proposal? Bikin bete aja!” Rana mengembalikan flashdisk Azam dan kemudian masuk ke kamarnya.
“Lho, Rana kenapa Zam?”
Tanya Sela teman satu kontrakan Rana yang juga teman sekampung Azam.
“Ngambek kayak
biasanya!”
“Tapi kalo sama kamu dia jarang ngambek kok, dia tuh emang gitu. Gede ambeknya, maklumi ajalah.”
“Iya, aku juga udah
tau kok!”, “Ok aku balik dulu!”
Rana mendengar
percakapan antara Azam dan Sela dari dalam kamarnya yang kebetulan dekat dengan
ruang tamu. Kemudian ia merasa sangat menyesal sekali dengan perbuatannya tadi
yang sangat kekanak-kanakan. Mau gimana lagi, sifat Rana memang seperti itu. Ia
tidak bisa bila dimarahi atau dikritik orang lain jika sedang dalam suasana
hati yang buruk. Rana berniat meminta maaf pada Azam melalui pesan singkat.
Zam, sorry banget ya!!
Ia kirim pesan
singkat itu ke nomor hape Azam. Tak
berapa lama Azam menjawab:
Haha, santai aja kali Ran! Besok anterin buat ngirim
surat undangan ya!
Ok!
Keesokan harinya
Rana dan Azam janjian bertemu di kantin kampus. Saat menunggu Azam, Rana
memilih untuk sarapan terlebih dahulu. Ia harus mengisi perutnya sebelum minum
obat dari ibunya. Karena terlalu banyak kegiatan, akhir-akhir ini fisik Rana
sudah tak kuat lagi. Penyakit lamanya kambuh. Sebuah penyakit yang diakibatkan
oleh sang pasien telat makan atau bhakan jarang makan. Tau kan kalau itu
penyakit maag, dan maag Rana sudah pada tahap akut.
Tak berapa lama, Azam
datang bersama Hilman. Hilman juga teman satu kegiatan intra kampus Rana, tapi
ia tidak begitu dekat dengan Hilman. Mereka nampak terdiam dan tak seperti
biasanya langsung duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rana merasa ada
yang tidak beres, ia ingin bertanya namun takut ada yang salah. Ia hanya
mengirimkan sms pada Azam.
Heh, km n Hilman ada mslah apa? Dteng2 kok pda cemberut gtu?
Azam hanya membaca
pesan singkat Rana, ia menggelengkan kepala dan tak mengatakan apa-apa. Rana
merasa salah tingkah. Ia kemudian tak melanjutkan makan dan ia lupa untuk minum
obat. Ia buru-buru membayar makanannya dan pergi bersama Azam menuju kantor
fakultasnya, meninggalkan Hilman yang diam saja sambil melihat hape-nya.
Setelah berjalan
agak jauh, Azam bercerita bahwa Hilman sedang tidak dalam cuaca hati yang baik.
Katanya, ia melihat cewek yang ia sukai—untuk pertama kalinya dibonceng cowok
lain lewat depan matanya dan menyapa ketika bertemu tadi.
“Haha, jadi si
Hilman lagi patah hati? Kasian banget tuh anak!”
“Iya, tapi jangan
diketawain gitu dunk. Aku aja dari tadi takut yang mau ngomong.”
“Ya udah deh, kamu
yang kasiin undangannya. Aku lagi gak mau ketemu Pak Umar.”
“Lho kok gitu, ayo
bareng-bareng masuknya.”
Rana tetap diam di tempatnya,
tidak bergerak sama sekali. Azam terpaksa masuk dan menghadap Pak Umar
sendirian. Alasan kenapa ia tak mau ikut
menghadap orang nomer satu di fakultasnya itu adalah karena orang tersebut
paman dari Rana. Beliau mendengar rumor bahwa keponakannya sedang menjalin
hubungan dengan salah seorang mahasiswanya. Tentu saja jika beliau bertanya
pada sang ponakan langsung, Rana tak akan mau menjawabnya.
Hampir lima belas
menit, akhirnya Azam keluar dengan wajah aneh. Ia sepertinya kebingungan dan
sedang bertanya-tanya dalam hati. Rana segera menghampirinya.
“Hei, kenapa? Kok
keliatan bingung gitu?”
“Tadi pas di dalem,
Pak Umar tanya nama sama aku kuliah jurusan apa. Selain itu bapak tadi juga
tanya apa aku pacar kamu. Ngapain ya Pak Umar tanya-tanya gitu?”
“Oh, KEPO kale tuh
orang. Gak sengaja pas liat kita jalan bareng trus langsung deh tanya apa aku
pacar kamu. Udah gak usah dipikirin.” Rana melihat sekelebat bayangan orang
yang mirip pamannya sedang mengintip dari balik jendela lantai dua. Jelasnya itu
memang sang paman. Hape Rana
berbunyi.
“Eh, bentar ya ada
telepon.” Rana menjauhi Azam untuk menjawab telepon sang paman. Ia nampak marah
dan langsung menutup telepon itu.
“Ayo pergi dari
sini Zam!” Wajah Rana terlihat
marah. Ia sangat tidak suka dengan omongan sang paman. Beliau mengira Azam pacar
Rana dan melarang Rana jalan dengan Azam lagi.
Aneh sekali bagi Rana, mana bisa ia menjauhi Azam jika mereka hanya berteman saja. Teman, bukan sepasang kekasih, bukan sepasang merpati yang saling terikat hati. Apa tak boleh lelaki dan perempuan berteman?
“Tadi Hilman,
sekarang kamu Ran. Ada apa seh hari ini, kok sampek bisa bikin orang-orang jadi
gak mood gini?”
“Sorry Zam, aku gak
maksud jadi uring-uringan gini. Tapi tiba-tiba aku marah dan pengen banget
teriak yang kenceng.”
“Ya udah, kita jalan-jalan
dulu yuk! Aku ngajak Hilman sekalian ya!”
Rana hanya
mengangguk dan menyandarkan kepalanya di bahu Azam ketika di atas motor. Ia
lupa jika mereka masih di dalam kampus. Ia juga lupa kalau sudah tersebar rumor
‘hubungan’nya dengan Azam. Beberapa orang yang mengenal Azam kaget. Beberapa
lagi yang kenal Rana tersenyum. Mereka mengira Azam dan Rana memang benar-benar
pacaran.
Azam pun tidak
mencoba mengingatkan Rana. Ia merasa kasihan, mungkin dengan begitu hati Rana
menjadi tenang. Ketika mereka sampai di kantin, Hilman sudah tidak ada.
Akhirnya Azam memutuskan mereka pergi hanya berdua. Ia meminta Rana mengirim
pesan ke Hilman agar Hilman menyusul mereka. Sayangnya, Hilman tidak mau.
Di tempat biasa
mereka menghilangkan suntuk itu terlihat sepi, tak banyak orang datang seperti
biasanya. Mereka duduk di bukit teratas, dari tempat mereka bisa melihat
sekeliling dengan jelas. Rana mengeluarkan headset dan mulai mendengarkan lagu.
Volume paling kencang hingga Azam bisa mendengar lagu yang sedang diputar.
Dilepaskannya satu
headset dan ia pasang di telinga kanannya. Duduknya pun sedikit mendekati Rana
agar ia bisa ikut menikmati lagu kesukaannya. Bagi Rana itu tak masalah. Karena
mereka bukan datang sebagai pacar yang mau pacaran, tapi dua orang teman yang
sedang menghilangkan suntuk dan kepenatan dari aktivitas sehari-hari. Semilir
menerpa wajah mereka. Daun-daun ada yang berguguran jatuh tepat di atas kepala.
Suara kicauan burung masih terdengar. Rana ingin teriak namun ia takut
orang-orang mengira ada apa. Ia hanya sanggup menangis.
Ia kesal, kenapa
sang paman sangat mencampuri urusan dan kehidupan Rana. Seharusnya ia tak
memilih kuliah di kampus itu jika bukan karena sang ibu yang memintanya. Jadi
ia tak perlu harus diam-diam pergi dengan temannya, atau tak harus berbohong
pada sang ibu tentang beberapa hal. Ia benci pamannya yang sok tau itu, mungkin
karena beliau tak memiliki anak jadi merasa Rana adalah anak gadisnya juga.
“Rana!” terdengar
suara yang sudah tak asing lagi. Suara paman Rana, Pak Umar. Beliau salah
menyangka. Rana dan Azam seperti dua sejoli yang sedang berpacaran.
“Paman.” Jerit Rana
“Pak Umar? Paman?”
Azam terlihat bingung.
“Apa-apa kalian?
Kamu bilang dia ini bukan siapa-siapa kamu Rana? Kamu lupa kalau kamu sudah
paman jodohkan dengan anak teman paman?” Pak Umar menyeret tangan Rana, namun
Rana menipis tangannya.
“Kami gak lagi
pacaran kayak yang paman kirain. Kita cuma lagi duduk aja paman. Rana gak lupa
dan gak bisa lupa. Rana tau, Rana lagi dijodohin. Tapi apa pernah paman tanya
perasaan Rana? Dia ini teman Rana paman, bukan berarti kita berduan di sini
trus kita lagi pacaran!”
“Ah, bohong aja
trus kamu. Jono, buka pintu mobilnya!”
Rana berontak dan teriak, seketika perutnya sakit sekali. Seperti ditusuk
pisau berulang-ulang. Ia kemudian pingsan karena sakit hebat yang ia rasakan.
Azam, Pak Umar, dan Jono supir Pak Umar kaget melihat Rana yang pingsan. Segera
Rana dibawa menuju rumah sakit terdekat.
Sudah hampir
setengah hari Rana pingsang dan harus dirawat di rumah sakit Harapan Bangsa.
Maag-nya sudah parah, badannya sudah tak sanggup lagi bertahan hingga saat ia
dan pamannya bertengkar. Azam panik, begitu juga Pak Umar. Mereka tak menyangka
Rana akan pingsan. Sebelum dibawa ke rumah sakit, mereka tak tau penyebab Rana
pingsan. Dan ternyata maag-nya kambuh.
Ibu Rana datang
setelah di telepon. Jauh-jauh dari Palembang, sang ibu merasa khawatir. Itu
terlihat dari raut wajahnya. Rana mendengar suara ibunya, langsung ia
memanggil,
“Bu...”
Ibunya menghampiri
dan mengusap kepala anak satu-satunya itu. Sambil berbisik ibunya berkata, “Iya
sayang. Ibu di sini.”
Rana tersenyum
meski ia menahan sakit yang luar biasa di perutnya. Reaksi obatnya mungkin
sudah hilang. Ia mengeluh pada ibunya dan meminta dibawakan obat lagi. Ia tak
sanggup menahan rasa sakit itu. Tak berapa lama suster dan dokter datang membawa
obat-obatan.
Setelah meminum
obatnya, Rana bertanya di mana apa ada temannya yang menjenguk.
“Banyak, tapi
mereka ada di depan. Belum ibu suruh masuk.”
“Rana pengen ketemu
yang namanya Azam bu.”
Ibunya langsung
memanggil Azam. Kemudian Azam masuk namun tidak sendirian, ia bersama Hilman.
Rana meminta ibunya keluar sebentar karena ada hal yang ingin dibicarakan
dengan temannya.
“Rana, kamu kok gak
bilang kalau Pak Umar itu paman kamu?”
“Iya maaf Zam, aku
cuma gak pengen ada yang tau aja. Eh, kamu gak diapa-apain kan sama pamanku?”
“Gak. Waktu kamu
pingsan dan dibawa ke sini, aku langsung sms
Hilman minta dia dateng. Aku jelasin semuanya ke paman dan ibu kamu, kalau kita
gak ada apa-apa.”
“Alhamdulillah deh,
kalau semuanya udah jelas.”
“Tapi kamu juga gak
cerita kalau kamu dijodohin.”
“Hm, itu cuma ide
gila paman ku. Lebih tepatnya bukan dijodohin, tapi cuma mau dikenalin aja.
Padahal aku udah bilang aku lagi suka sama orang lain, mungkin itu dikira kamu
ya. Hahaha. Aduh.” Rana memengangi perutnya yang masih nyeri.
Kemudian mereka
tertawa. Lucu memang. Setiap kali ada laki-laki dan perempuan yang naik motor
bareng, keluar berdua bareng, jalan di kampus bareng, dan selalu bertemu ketika
mereka sedang berdua langsung saja dikira pacaran. Padahal dua orang tersebut
hanya teman dekat yang sedang menghabiskan waktu bersama.
Paman dan Ibu Rana
masuk ke kamar,
“Rana, kalau kamu
memang suka sama Azam. Paman gak akan maksa kamu ketemu anak temannya paman
kok.”
“Iya sayang, ibu
gak mau kamu jadi kepikiran trus lupa makan akhirnya maag kamu kambuh kayak
gini.”
Rana, Azam, dan
Hilman bengong. Mereka bingung, bukannya sudah jelas ya kalau Azam dan Rana
hanya berteman. Hilman sampai bersumpah di depan paman Rana sewaktu menjelaskan
tadi.
“Paman gak nyangka,
ternyata kalian sudah saling suka. Jadi buat apa paman maksa ya.” Pak Umar dan
ibu Rana tersenyum berdua.
“Maksud paman apa?
Rana bingung paman!”
“Azam ini anak Pak
Lukman, yang mau paman kenalin ke kamu. Paman gak tau kalau anaknya Pak Lukman
kuliah di sini juga.”
“Apa?” Rana kaget, begitu pula Azam. Hilman
hanya tertawa tertahan. Ternyata Azam-lah orang yang akan dijodohkan dengan
Rana.
#4 November 2012
